Rabu, 16 September 2009

DAMPAK MODERNISASI TERHADAP PERUBAHAN FUNGSI KELUARGA

DAMPAK MODERNISASI TERHADAP PERUBAHAN FUNGSI KELUARGA
Oleh
Witrianto

I. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Dalam setiap masyarakat, keluarga merupakan pranata sosial yang sangat penting artinya bagi kehidupan sosial. Seseorang menghabiskan paling banyak waktunya dalam keluarga dibandingkan dengan di tempat bekerja misalnya, dan keluarga adalah wadah di mana sejak dini seseorang dikondisikan dan dipersiapkan untuk kelak dapat melakukan peranan-peranannya dalam dunia orang dewasa. Melalui pelaksanaan peranan-peranan itu pelestarian berbagai lembaga dan nilai-nilai budayapun akan dapat tercapai dalam masyarakat bersangkutan.
Keluarga adalah satu-satunya lembaga sosial, di samping agama, yang secara resmi telah berkembang di semua masyarakat. Tugas-tugas kekeluargaan merupakan tanggungjawab langsung setiap pribadi dalam masyarakat, dengan satu dua pengecualian. Hampir setiap orang dilahirkan dalam keluarga dan juga membentuk keluarganya sendiri. Setiap orang merupakan sanak keluarga dari banyak orang. Hampir tidak ada peran tanggungjawab keluarga yang dapat diwakilkan kepada orang lain, seperti halnya tugas khusus dalam pekerjaan dapat diwakilkan kepada orang lain.
Keikut sertaan dalam aktivitas keluarga meskipun tidak didukung oleh hukuman resmi yang biasanya mendukung banyak kewajiban lainnya, tetapi semua orang tetap mengambil bagian. Umpamanya, kita wajib ikut serta dalam kegiatan yang ekonomis atau produktif, jika tidak ingin menghadapi pilihan kelaparan. Kita harus membayar pajak, menghadap ke pengadilan jika bersalah, atau menghadapi hukuman fisik dan kekuatan. Akan tetapi, tidak ada hukuman serupa itu bagi orang yang menolak untuk kawin, atau tidak mau berbicara dengan saudara atau orangtuanya. Meskipun begitu, tekanan sosial itu demikian memaksa dan terus menerus, dan demikian terbaurnya dengan imbalan baik secara langsung maupun tidak, sehingga hampir semua orang menyesuaikan diri atau mengaku menyesuaikan diri kepada tuntutan-tuntutan keluarga.
Terjadinya modernisasi yang diawali dengan Revolusi Industri di Inggris pada abad ke-18. Gejala ini kemudian meluas ke seluruh dunia. Mula-mula ke daerah-daerah yang kebudayaannya semacam, yaitu ke Eropa dan Amerika Utara, kemudian ke bagian-bagian dunia yang lain dengan daerah-daerah yang kebudayaannya berbeda sama sekali dengan kebudayaan Eropa, seperti ke Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Modernisasi yang terjadi ini juga menyentuh aspek keluarga, sehingga telah terjadi berbagai perubahan fungsi keluarga sebagai akibat proses modernisasi. Fenomena perubahan-perubahan yang terjadi dalam keluarga akibat modernisasi ini merupakan hal yang hendak diangkat dalam tulisan ini.

1.2. Permasalahan
Untuk mempermudah dan membantu jalannya penulisan, maka tulisan ini berangkat dari beberapa pertanyaan:
1. Bagaimana fungsi keluarga secara tradisional dalam masyarakat?
2. Bentuk-bentuk modernisasi apa saja yang telah terjadi?
3. Perubahan-perubahan apa saja dalam fungsi keluarga akibat modernisasi yang terjadi?

1.3. Kerangka Konseptual dan Pendekatan
Istilah yang sering dijumpai dalam literatur mengenai keluarga adalah mengenai struktur dan fungsi. Istilah-istilah ini muncul dalam hampir semua tulisan yang beredar saat ini, tetapi dalam beberapa pengertian yang bervariasi. Merton (1957), menyatakan bentuk-bentuk penggunaan istilah fungsi membantu untuk membedakan pengertiannya seperti yang digunakan dalam pendekatan struktur fungsional yang digunakan dalam beberapa literatur ilmu sosial.
Kata fungsi adalah suatu kata yang sering digunakan oleh sosiolog. Sebagai contoh, Ogburn dan Nimkoff, dalam karya mereka tentang perubahan dalam keluarga. Menurut mereka kata fungsi merujuk pada aktivitas. Dalam hal ini kata yang digunakan pada aktivitas yang diberikan terhadap seseorang dari status sosial yang nyata. Walaupun pengertian ini berhimpitan dengan istilah fungsi yang digunakan oleh penulis-penulis yang menggunakan pendekatan struktur fungsional, suatu pengertian yang sangat teliti dihubungkan terlihat untuk menyatakan secara tidak langsung ketika penulis-penulis tertentu mendidkusikan prayarat fungsi dan fungsi keluarga.
Keluarga mungkin dilihat sebagai satu atau beberapa subsistem dalam masyarakat, dalam hubungan antara keluarga dengan masyarakat dan keluarga dengan subsistem lainnya sebagai fokus penelitian. Individu dalam keluarga inti dapat juga dianalisis sebagai suatu sistem yang benar, suatu batas, mempertahankan sistem yang ada dalam berbagai bentuk internal dan eksternal yang menekankan pada batas disolusi atau pemeliharaan. Analisis bentuk pertama telah mengacu sebagai makrofungsionalis dan belakangan sebagai mikrofungsionalis.
Dalam pendekatan stuktur-fungsional terhadap studi keluarga, tiga area utama secara nyata yang ditekankan adalah; fungsi keluarga terhadap masyarakat, sistem subsistem dalam keluarga terhadap keluarga, atau terhadap masing-masing lainnya, fungsi keluarga terhadap individu anggota keluarga, mencakup pengembangan perseorangan. Cara lain dari pernyataan tiga area utama ini adalah (1) hubungan antara keluarga dan unit sosial yang lebih luas, (2) hubungan antara keluarga dan subsistem, dan (3) hubungan antara keluarga dan pribadi. Dalam tiap-tiap kasus hubungan dalam salah satu dari dua arah mungkin lebih ditekankan.
Satu tekanan utama dalam memperhatikan hubungan antara keluarga dan unit sosial yang luas dalam peranan yang dimainkan keluarga dalam bersosialisasi sebagai anggota baru dalam masyarakat. Parsons dan Bales tentunya lebih tertarik hanya pada unit struktur kekerabatan yang kecil, yaitu keluarga, yang dapat membawa keluar tanggung jawab untuk anak-anak yang sangat muda dan oleh karena itu secara umum adalah keluarga inti.
Fokus utama ketiga studi memperhatikan area umum pada hubungan timbal-balik antara keluarga dan pribadi. Fungsi gangguan emosi pada seorang anak terhadap keluarga dan akibatnya untuk perkembangan kepribadian anak sebagai subjek dari studi alamiah. Contoh lain adalah Strodtbeck (1958) dan Parsons (1955). Spiegel dan Bell (1959) memberikan suatu tinjauan ulang studi dengan menekankan pada perkembangan penyakit (patologi) berdasarkan latar keluarga. Beberapa dari studi ini mempertimbangkan keluarga sebagai suatu sistem, tetapi para pengarang meninjau kembali laporannya yang mana sebagian besar penulis mempertimbangkan hanya hubungan yang sebenarnya dalam keluarga, seperti hubungan ibu-anak dan hubungannya dengan gangguan. Ackerman menilai kebutuhan untuk mempertimbangkan hubungan antara masyarakat yang lebih besar, keluarga dan individu yang layak untuk mengerti perkembangan kepribadian.
Satu nilai dari pandangan yang dapat ditemukan dalam literatur mengenai keluarga adalah suatu variabel ketergantungan antara keluarga dan institusi lain. Penjelasan terhadap pengamatan struktur dan fungsi keluarga yang diberikan masyarakat adalah yang diasumsikan kemudian untuk kepalsuan di luar keluarga. (Sebagai contoh Winch, 1963). Keluarga dipertimbangkan sebagai variabel yang mandiri hanya ketika pribadi berkembang atau sosialisasi anak sedang dipertimbangkan. Nilai ini dilihat tidak dengan suara bulat , walau bagaimanapun, dan tidak dengan keras konsisten dengan teori struktur fungsional. Untuk beberapa masyarakat yang dilihat sebagai suatu karakter sistem sosial oleh suatu kecenderungan keseimbangan, subsistem yang terdiri dari semua bagian yang saling berhubungan. Beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang dalam hal ini akan berimplikasi penting terhadap beberapa bagian yang lain seperti halnya sistem secara keseluruhan. Bell dan Vogel menerangkan dengan contoh kecenderungan untuk mempertimbangkan pertukaran fungsi secara timbal-balik.

II. Fungsi Keluarga
Fungsi keluarga adalah untuk menciptakan anggota masyarakat yang baru yang sesuai dengan norma-norma atau ukuran pada masyarakat tersebut. Perubahan yang ada pada masyarakat mempengaruhi suatu keluarga dalam memberikan pengajaran pada anak-anaknya. Secara umum fungsi keluarga adalah untuk sosialisasi, reproduksi, dan legalitas status. Menurut Goode (1983), ada empat fungsi universal keluarga inti, yaitu fungsi seksual, fungsi reproduksi, fungsi ekonomi, dan fungsi pendidikan. Keempat fungsi tersebut bersifat universal dan mendasar bagi kehidupan manusia.
Bagi hampir semua masyarakat, keluarga adalah pusat yang paling penting dalam kehidupan seorang individu biasa. Dari keluarga, seseorang itu melangkah keluar, dan kepada keluarga juga seseorang itu akan kembali, berada dalam kelompok orang yang paling erat dalam hidup mereka. Keluarga adalah kelompok inti yang paling penting dan dengannya seseorang itu berhubungan. Ia dicirikan dengan adanya kemesraan, hubungan tatapmuka, dan sangat abadi. Hubungan yang mesra dengan kelompok manusia yang terdekat menjadi kebutuhan seluruh manusia, sekurang-kurangnya sejauhmana wujudnya dalam semua masyarakat sebagai petunjuk universalitas.
Selain sebagai kelompok hidup yang mesra, keluarga juga menjadi sumber penyebaran makanan kepada emua lembaga lain. Di dalamnya, bukan saja desakan berproduksi dilakukan, tetapi dari segi alamiah merupakan satu-satunya kelompok di mana proses pembiakan diatur. Jadi keluarga juga mengambil tahu mengenai desakan berproduksi pembiakan, dan juga ditugaskan menjaga dan mendidik anak-anak pada masa bayinya. Oleh karena keluarga bertanggungjawab atas anak-anak itu pada tingkat awal dalam tahun pembentukan, maka pengaruhnya dalam proses sosialisasi adalah begitu penting.
Dalam banyak masyarakat, keluarga juga berfungsi sebagai unit produksi ekonomi. Usaha-usaha utama mencari biaya hidup dijalankan oleh keluarga sebagai satu unit, biasanya dengan pembagian kerja di kalangan anggota. Ada kalanya fungsi ini diambil alih oleh kelompok yang lebih besar, seperti sekumpulan pemburu atau gabungan beberapa keluarga, tetapi biasanya keluarga itu bertugas sebagai satu unit yang terkoordinasi dalam produksi ekonomi.
Keluarga bertugas sebagai pelindung para anggotanya dari kemungkinan gangguan masyarakat luar atau orang dari suku atau sukubangsa yang lain. Ada kalanya suku yang biasanya memotong melintang garis keturunan keluarga, menjalankan fungsi ini, dan dengan terbentuknya negara, kebanyakan jika tidak semuanya, fungsi ini kemudian dijalankan oleh lembaga yang dibentuk belakangan.
Keluarga juga berfungsi sebagai dasar untuk menentukan status para anggotanya. Di mana terdapat perbedaan besar dalam status di kalangan suatu masyarakat, keluarga yang darinya seseorang itu dilahirkan biasanya mempunyai hubungan dengan sistem status ini, dan status individu itu diperoleh, sekurang-kurangnya sebagian dari keluarganya. Perubahan status biasanya terjadi melalui perkawinan. Dalam masyarakat yang mempunyai warisan status, keluarga menjadi unit di mana warisan status itu diturunkan. Hak-hak istimewa biasanya diturunkan melalui garis keluarga, seperti hak memperoleh tanda kehormatan dari orang lain dan hak istimewa mendapatkan harta tertentu.
Fungsi keluarga yang penting lainnya adalah menjaga dan merawat anggota yang sakit, tua, atau tidak bernasib baik. Fungsi ini, seperti fungsi yang lain, berbeda dari satu masyarakat dengan masyarakat lain, tetapi kebanyakan masyarakat menentukan keluarga dengan tanggungjawab khusus kepada para anggotanya apabila ia membutuhkan bantuan keluarga.

III. Bentuk-bentuk Modernisasi
Modernisasi bukan merupakan istilah dan proses yang teramat baru. Manifestasi proses modernisasi pertama kali nampak di Inggris pada abad ke-18 yang disebut dengan Revolusi Industri. Untuk negara-negara Asia sekalipun, istilah modernisasi paling tidak sudah dikenal kurang lebih selama satu abad, yaitu sejak terjadinya industrialisasi Jepang, yang lewat pertengahan abad ke-20 itu tergolong yang paling giat mengusahakan modernisasi tersebut. Apakah proses kontemporer ini dilukiskan sebagai “kehancuran tradisi” ataupun sebagai “revolusi dari pengharapan yang meningkat”, yang jelas orang sedang menuntut dan mengalami perubahan-perubahan yang sedemikian pesatnya sehingga tidak ada bandingannya dalam sejarah.
Modernisasi sesuatu masyarakat ialah suatu proes transformasi, suatu perubahan masyarakat dalam segala aspek-aspeknya. Di bidang ekonomi, modernisasi berarti tumbuhnya kompleks industri yang besar-besar, di mana produksi barang-barang konsumsi dan barang-barang sarana produksi diadakan secara massal. Perkembangan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari perkembangan ilmu pengetahuan. Revolusi industri dapat terjadi karena revolusi ilmu pengetahuan dan revolusi teknologi yang berkaitan dengan itu.
Suatu masyarakat modern dengan spesialisasi fungsi-fungsinya di semua aspek kehidupan, yang biasanya memerlukan pendidikan dan latihan yang lama, tidak mungkin ada tanpa suatu sistem pendidikan yang luas. Biaya pendidikan juga hanya dapat dipikul oleh suatu sistem produksi yang modern.
Aspek yang paling spektakular dalam modernisasi sesuatu masyarakat ialah pergantian teknik produksi dari cara-cara tradisional ke cara-cara modern, yang tertampung dalam pengertian revolusi industri. Akan tetapi, revolusi industri hanya sebagian atau satu aspek saja dari suatu proses yang jauh lebih luas. Modernisasi suatu masyarakat ialah suatu proses transformasi suatu perubahan masyarakat dalam segala aspek-aspeknya. Beberapa aspek serta hubungannya dengan berbagai macam gejala berikut ini memberikan gambaran dari transformasi besar masyarakat itu.
Dalam satu negara yang baru timbul, menurut Weiner (1980) muncul perubahan-perubahan sebagai dampak dari modernisasi, yaitu (1) dalam bidang politik, berubahnya sistem-sistem kewibawaan suku dan desa yang sederhana digantikan dengan sistem-sistem pemilihan umum, kepartaian, perwakilan, dan birokrasi pegawai negeri; (2) dalam bidang pendidikan, sewaktu masyarakat berusaha mengurangi kebutahurufan dan meningkatkan ketrampilan-ketrampilan yang membawa hasil-hasil ekonomi; (3) dalam bidang religi, sewaktu sistem-sistem kepercayaan sekuler mulai menggantikan agama-agama tradisionalistis; (4) dalam lingkungan keluarga, ketika unit-unit hubungan kekeluargaan yang meluas menghilang; (5) dalam lingkungan stratifikasi, ketika mobilitas geografis dan sosial cenderung untuk merenggangkan sistem-sistem hirarki yang sudah pasti dan turun temurun.

IV. Dampak Modernisasi Terhadap Fungsi Keluarga
Salah satu akibat dipisahkannya kegiatan-kegiatan ekonomi dari lingkungan komunitas keluarga adalah bahwa suatu keluarga kehilangan beberapa fungsi dan memproleh suatu peranan yang khusus. Oleh karena keluarga tidak lagi merupakan suatu unit produksi, maka satu atau lebih dari anggotanya meninggalkannya untuk mendapatkan pekerjaan dalam pasaran tenaga kerja. Kegiatan-kegiatan keluarga makin lebih terpusat pada kesenangan-kesenangan emosionil dan sosialisasi.
Implikasi sosial dari perubahan struktur keluarga adalah terjadinya proses individuasi dan isolasi keluarga batih (nuclear family). Bila keluarga harus mondar-mandir dalam pasaran tenaga kerja maka tidaklah mungkin untuk membawa seluruh anggota keluarga, malah tidak mungkin untuk mempertahankan hubungan-hubungan yang erat dan yang bercabang-cabang itu dengan para sepupu. Hubungan dengan anggota-anggota keluarga yang seketurunan mulai pecah; hanya beberapa generasi yang menetap dalam suatu rumahtangga yang sama; keluarga-keluarga yang baru kawin membentuk rumahtangga sendiri dan meninggalkan para orangtua. Satu persoalan yang sosial yang timbul akibat perubahan dalam keluarga ini adalah tempat dari orang-orang yang telah tua sekali. Oleh karena tidak lagi ditampung oleh unit kekerabatan yang melindungi mereka, maka orang-orang yang sangat tua ini jatuh ke dalam pengawasan komunitas atau negara sebagai “titipan” yang jumlahnya semakin besar dari waktu ke waktu. Akibat tersisihnya orang dari masyarakat, maka timbullah lembaga baru seperti pensiun dan jaminan sosial.
Secara serentak hubungan antara orangtua dan anak-anak juga mengalami perubahan. Sang ayah, yang sekarang harus meninggalkan rumahtangganya untuk bekerja di tempat yang lain, dengan sendirinya kehilangan banyak fungsinya untuk memberi latihan ekonomi yang sebelumnya diberikannya pada anak-anaknya. Berhubung dengan itu sistem-sistem apprentice-ship atau “magang”, di mana sang ayah dan sang anak harus berada bersama-sama di tempat kerja, menghilang dengan bertambahnya spesialisasi produksi di pabrik-pabrik. Sering dikemukakan bahwa menghilangnya kewibawaan ekonomi dari sang ayah menyebabkan menghilangnya kewibawaan umumnya dari para orangtua, sekalipun pernyataan ini sangat sulit dibuktikan secara empiris. Sang ibu yang sering merupakan satu-satunya orang dewasa di antara para anak-anak selama hampir sehari penuh, mengembangkan suatu hubungan emosionil yang lebih intensif dengan mereka. Peranannya dalam sosialisasi menjadi lebih penting, karena ia memiliki hampir semua tanggungjawab untuk membina kehidupan emosional yang pertama dari anak-anak itu.
Betapapun eratnya hubungan antara sang ibu dan sang anak dalam tahun-tahun pertama itu, masa ini tidaklah lama. Suatu masyarakat kota-industri yang sedang maju memerlukan bermacam-macam teknik yang tidak selamanya dapat disediakan oleh keluarga. Oleh karena itu, keluarga cenderung untuk menyerahkan fungsi pendidikannya pada sistem-sistem pendidikan formal. Pagi-pagi sekali suatu keluarga batih telah menyerahkan kewibawaannya atas anak-anaknya pada Sekolah Dasar (atau taman kanak-kanak, atau bahkan di Play Group); sewaktu remaja anak-anak itu menjalin hubungan-hubungan ke luar tidak saja dengan sekolah, tetapi juga dengan sebagian dari pasaran tenaga kerja. Tambahan lagi, anak-anak itu mungkin telah menikah pada usia yang muda (sebelum atau sesudah dupuluh tahun), membentuk rumahtangga mereka sendiri dan makin kurang bergantung pada orangtua.
Suatu percabangan dari hubungan orangtua – anak yang berubah-ubah ini adalah “jurang masa remaja”, yaitu ketika para remaja terlepas dari hubungan yang erat dengan orangtua semasa usia muda, tetapi belum mendapat pekerjaan dalam dunia dewasa atau peranan-peranan dalam rumahtangga atau masyarakat. Oleh karena itu, untuk beberapa tahun lamanya si remaja mengalami tidak adanya peranan yang melibatkan dirinya secara mantap.
Suatu percabangan lain dari terjadinya perubahan besar dalam perhubungan-perhubungan keluarga di lingkungan kota industri adalah yang mengenai adalah pembentukan keluarga-keluarga baru. Dalam kebanyakan lingkungan tradisional, suatu perkawinan sangat ketat dikendalikan oleh para orangtua; cita-rasa dan keinginan pasangan-pasangan yang akan dikawinkan itu kurang lebih tidak dianggap penting. Jadi, dasar bagi suatu perkawinan di sini tidak terletak pada cinta, tetapi pada pengaturan-pengaturan yang lebih praktis seperti adanya mas kawin dalam jumlah yang tertentu atau perjanjian pemberian sebidang tanah yang terpilih. Dengan menghilangnya hubungan-hubungan keluarga besar dan pemberian arti baru pada kewibawaan orangtua, maka para remaja dibebaskan untuk memilih pasangan-pasangan mereka sendiri.

V. Penutup
Secara umum, modernisasi cenderung untuk menimbulkan suatu unit keluarga yang dibentuk oleh daya tarik emosional dan yang dibangun atas dasar-dasar seksual-emosional yang terbatas. Keluarga dengan demikian telah tersisihkan dari bidang-bidang sosial lain yang penting, kecuali hubungan-hubungan keluar dari masing-masing anggotanya. Dengan isolasi dan pengkhususan sedemikian rupa itu, maka keluarga kurang mencampuri bidang-bidang sosial lain tersebut. Sikap mengutamakan keluarga sendiri (nepotisme) sebagai suatu dasar untuk memungut tenaga-tenaga bagi tugas-tugas sosial lain cenderung untuk disalah-gunakan atau sekurang-kurangnya dicurigai, sedangkan dalam masyarakat tradisional itu adalah cara yang halal. Akhirnya, dalam lingkungan keluarga, fungsi yang serba beragam dan kompleks dari hubungan-hubungan antara anggota keluarga yang satu dengan anggota yang lainnya cenderung untuk menjadi hubungan-hubungan emosional saja.
Modernisasi yang terjadi, telah menyebabkan perubahan-perubahan dalam fungsi keluarga. Jika sebelumnya keluarga berfungsi dalam memenuhi hampir semua kebutuhan anggotanya, setelah adanya modernisasi banyak peran-peran keluarga yang kemudian diambil-alih oleh lembaga lain. Beberapa contoh di antaranya adalah, fungsi keluarga sebagai tempat pendidikan telah beralih ke lembaga pendidikan yang banyak terdapat di mana-mana, baik formal maupun nonformal. Contoh lainnya adalah, dalam menyediakan pakaian, saat ini orang tidak perlu lagi harus menenun sendiri dan menjahit sendiri pakaiannya, tetapi bisa membeli bahannya di pasar dan membawanya ke tukang jahit untuk dijahit sesuai dengan keinginan kita, atau bisa juga membeli pakaian jadi. Fungsi keluarga sebagai penyedia makanan bagia anggotanya, saat ini juga sudah mulai bergeser. Banyak orang, terutama yang sama-sama bekerja suami-istri lebih suka membeli masakan jadi daripada harus memasaknya terlebih dahulu.


DAFTAR PUSTAKA

Goode, William J. 1983. Sosiologi Keluarga. PT Bina Aksara. Jakarta.
Ihromi, T.O. (ed.). 1999. Bunga Rampai Sosiologi Keluarga. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.
McIntyre, Jennie. “The Structure-Functional Approach to Family Study”.
Roucek, Joseph S. & Roland L. Warren. 1984. Pengantar Sosiologi. Bina Aksara. Jakarta.
Sajogyo, Pudjiwati. 1985. Sosiologi Pembangunan. Fakultas Pasca Sarjana IKIP Jakarta.
Schoorl, J.W. 1980. Modernisasi Pengantar Sosiologi Pembangunan Negara-negara Sedang Berkembang. PT Gramedia. Jakarta.
Weiner, Myron. 1980. Modernisasi Dinamika Pertumbuhan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar